Thursday, 18 September 2014

Pilling work (pekerjaan pemancangan)

Pondasi tiang pancang merupakan bagian dari konstruksi yang dibuat dari kayu, beton, dan baja yang digunakan untuk mentransmisikan beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat pemukaan yang lebih rendah dalam masa tanah. dimana pondasi tiang pancang ini digunakan unuk mendukung bangunan bila lapisan tanah kuat terletak sangat dalam. hal ini merupakan distribusi vertikal dari beban sepanjang poros tiang pancang atau pemakaian beban secara langsung terhadap lapisan yang lebih rendah melalui ujung tiang pancang.

tiang pancang ini semata-mata hanya dari segi kemudahan karena semua tiang pancang berfungsi sebagai kombinasi tahanan samping dan dukungan ujung kecuali bila tiang pancang menembus tanah yang sangat lembek sampai kedasar padat.

tiang pancang umumnya digunakan untuk beberapa maksud yaitu :

1.untuk meneruskan beban bangunan yang terletak diatas air atau tanah lunak ke tanah pendukung yang kuat

2.untuk meneruskan beban ke tanah yang relatif kuat untuk sampai kedalaman tertentu sehingga pondasi bangunan mampu memberikan dukungan yang cukup untk mendukung beban tersebut oleh gesekan sisi tiang dengan tanah disekitarnya

3.untuk mengangker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat ke atas akibat tekanan hidrostatis atau momen penggulingan

4.untuk menahan gaya-gaya horizontal dan gaya yang arahnya miring

5.untuk memadatkan tanah pasir, sehingga kapasitas dukung tanah tersebut bertambah

6.untuk mendukung pondasi bangunan yang permukaan tanahnya mudah tergerus air

Monday, 2 June 2014

Besaran pokok dan besaran turunan

Besaran pokok adalah besaran yang ditentukan lebih dulu berdasarkan kesepakatan para ahli, besaran pokok mempunyai ciri khusus diperoleh dari pengukuran langsung dan mempunyai satu satuan. besaran pokok yang paling umum ada 7 macam :

1.panjang (m)
2.massa (kg)
3.waktu (s)
4.kuat arus listrik (A)
5.intensitas cahaya (cd)
6.jumlah zat (mol)
7.suhu(K)

Besaran turunan  adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok, besaran turunan mempunyai ciri khusus diperoleh dari pengukuran langsung dan tidak langsung dan mempunyai lebih dari satu satuan.

Besaran berdasarkan arah terdiri dari 2 macam

1.besaran vektor : besaran yang mempunyai nilai dan arah
2.besaran skalar : besaran yang hanya mempunyai nilai saja

contoh :

besaran vektor :                        besaran skalar :
1.perpindahan                           1.jarak
2.kecepatan                               2.laju
3.percepatan                              3.kekuatan
4.gaya                                        4.waktu
5.momentum                             5.volume
6.kuat medan magnet                 6.usaha
7.torsi                                         7.massa

Wednesday, 10 April 2013

Sistem Instalasi Plumbing

A. Definisi Plumbing

Plumbing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas dan kontinuitas yang memenuhi syarat dan pembuangan air bekas atau kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari bagian penting lainya untuk mencapai kondisi higenis dan kenyamanan yang diinginkan.

Plumbing mempunyai fungsi dan tujuan, adapun fungsi dan tujuanya sebagai berikut :

"Menciptakan suatu bangunan yang memenuhi kesehatan dan sanitasi yang baik
dengan suatu sistem pemipaan yang dapat mengalirkan air bersih ketempat tempat yang dituju dan membuang air kotor ke saluran pembuang tanpa mencemari bagian penting lainnya dengan tidak melupakan kenyamanan dan keindahan."

Ada 3 sistem/saluran yang dikenal sebagai sistem plumbing

1. sistem/ saluran air bersih
- Saluran Penampungan Air
- Saluran Pemadam Kebakaran

2. sistem/ saluran air kotor
- Saluran pembuang air hujan
- Saluran Kotor WC ke Septictank

3. sistem/ saluran udara atau gas
Bahan yang umum digunakan adalah dari besi/baja dengan lapisan galvanis, plastik, pvc, porselin dan dari beton betulang. Bahan harus memenuhi syarat tidak menyerap air, mudah dibersihkan, tidak berkarat atau mudah aus. Untuk instalasi air bersih maupun air kotor dalam bangunan kecuali instalasi air panas biasa digunakan pipa PVC, pipa ini dapat dibagi (bila tidak ada spesifikasi khusus):

a. Berdasarkan typenya ( ketebalan ) :

1. Type AW
Untuk pipa dengan kawalitas yang paling baik ( tebal ).
Biasanya digunakan untuk saluran air bersih / air minum yang mempunyai kekuatan
tekan yang cukup tinggi.
2. Type D
Untuk pipa kwalitas sedang dengan tebal medium.
Biasanya digunakan untuk saluran pembuang, seperti saluran air hujan, saluran pem-
buangan bekas cuci / mandi, saluran septictank, dsb.
3. Type C
Untuk pipa dengan kwalitas paling rendah (tipis).
Digunakan untuk sparing-sparing listrik yang tertanam dalam dinding.

b. Ukuran diameter penampang pipa.

a. Untuk saluran air bersih digunakan ukuran 1/2", 3/4", 1", 1,5".
b. Untuk saluran pembuang digunakan ukuran 1", 1,5" 2", 3", 4", 5".

Merek-merek yang di pasaran contohnya : Wavin, Rucika, Maspion, Pralon, Impralon, Dexlon.

B. Metode pelaksanaan

a. Instalasi Air bersih :

1. Hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah denah Plumbing serta Diagram Isometri dimana dapat diketahui jalur-jalur instalasi pipa itu diletakkan.

2. Pemasangan pipa dilaksanakan setelah pasangan bata dan sebelum pekerjaanplesteran dan acian, fungsi untuk menghindari bobokan yang menyebabkan keretakan dinding. (Untuk instalasi dalam bangunan).

3. Untuk pemasangan di luar bangunan seperti pipa saluran air hujan dikerjakan setelah pekerjaan plesteran diselesaikan.

4. Pipa yang melewati plat dak atau balok atau kolom beton harus dipasang sparing atau pemipaan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pengecoran.

5. Pipa yang posisi/letaknya sudah betul segera ditutup dengan plug/dop yang tidak mudah lepas (menghindari kotoran/adukan masuk sehingga terjadi penyumbatan).

6. Hindari belokan pipa/ knik pipa dengan pembakaran.

7. Posisi pipa pada kamar mandi harus disesuaikan dengan saniter

8. Rencana instalasi air bersih diletakkan pada perempatan nat keramik / as keramik, simetris dengan luas keramik.

9. Setelah instalasi terpasang segera diadakan test tekanan pipa :
- Untuk pipa Gip maximum 10 Bar
- Untuk pipa PVC maximum 6 Bar

b. Instalasi air Kotor

1. Hal yang perlu diketahui : Denah instalasi dan diagram isometris pipa air kotor serta jalur pembuangan.

2. Hindari /jangan terlalu banyak percabangan.

3. Sambungan harus betul-betul rapat.

4. Untuk air bekas (mandi/cuci) harus dibuat Manhole untuk kontrol pembersihan (bak kontrol) pada tempat-tempat tertentu.

5. Untuk lubang saluran pembuang harus diberi saringan.

6. Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton. ( diatas plat = 25 cm, dibawah plat = 15 cm ), bagian atas supaya ditekuk atau digepengkan / ditutup dengan cara dipanaskan.

7. Posisi sparing harus sesuai dengan type saniter (jika saniter telah ditentukan).

8. Jika saniter belum ditentukan , dipakai sistem Block Out.

9. Sparing Clean out harus dipasang bersamaan dengan sparing closet (bila ada), di mana letak sparing clean out berada di samping atau dekat dengan sparing closet, fungsinya adalah untuk pembersihan apabila closet terjadi penyumbatan.

10. Fan out dipasang bila dalam instalasi saluran kotor banyak percabangan dengan saluran pembuangannya lewat shaft. Fungsinya untuk mengurangi tekanan udara pada pipa pada saat closet di gelontor dengan air.

11. Floor drain supaya diletakkan jauh dari pintu dan dekat dengan kurasan bak.

c. Saluran Air Hujan.

1. Pipa diletakkan persis dibawah lobang talang yang telah diberi torong talang.

2. Pipa saluran air hujan dapat dipasang menempel di dinding luar dengan mengguna klem atau dapat ditanam di dinding bila berukuran < 2 ".

3. Bila saluran pembuang air hujan berupa saluran tertutup harus dibuat bak kontrol pada pertemuan pipa air hujan dengan saluran pembuang.

4. Bila terdapat sambungan, arah shock harus sebelah atas, dan penyambungannya harus benar-benar kuat.

d. Saluran Pipa Wc ke Septictank

1. Pipa saluran dari closet menuju ke septictank harus diperhatikan kemiringannya, karena kemiringan pipa dapat memperlancar penyaluran kotoran apabila digelontor dengan air, kemiringan minimal 2 %.

2. Pipa sebaiknya dipergunakan kwalitas yang baik atau minimal type D.

3. Jangan ada percabangan untuk pipa yang ditanam di tanah (bangunan 1 lantai), karena bila ada penyumbatan susah untuk perbaikannya. Untuk bangunan bertingkat (ada shaft) harus dibuat clean out dan fan out. 





Wednesday, 3 April 2013

sifat dan karakteristik campuran beton

Sifat dan karakteristik campuran beton segar secara tidak langsung akan mempengaruhi beton yang
telah mengeras. Pasta semen tidak bersifat elastis sempurna, tetapi merupakan viscoelastic-solid.
Gaya gesek dalam, susut dan tegangan yang terjadi biasanya tergantung dari energi pemadatan dan tindakan preventif terhadap perhatiannya pada tegangan dalam beton. Hal ini tergantung dari jumlah dan distribusi air, kekentalan aliran gel (pasta semen) dan
penanganan pada saat sebelum terjadi tegangan serta kristalin yang terjadi untuk pembentukan porinya.Beberapa sifat dan karakteristik beton yang perlu diperhatikan antara lain
adalah modulus elastisitas beton, kekuatan tekan, permeabilitas dan sifat panas
a) Sifat dan Karakteristik Bahan Penyusun

Selain kekuatan pasta semen, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah agregat. Seperti yang telah dijelaskan, proporsi campuran agregat dalam beton adalah sekitar 70-80%,
sehingga pengaruh agregat akan menjadi besar, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi tekniknya. Semakin baik mutu agregat yang digunakan, secara linear dan tidak langsung akan menyebabkan mutu beton menjadi baik, begitu juga sebaliknya. Jika melihat fungsi agregat dalam campuran
beton hanya sebagai pengisi maka diperlukan suatu sifat yang saling mengikat dan saling mengisi
(interlocking) yang baik, hal ini dapat tercapai jika bentuk permukaan dan bentuk agregatnyamemenuhi syarat yang diberikan baik itu syarat ASTM, ACI maupun SII
.
Agregat yang digunakan dalam beton yang berfungsi sebagaibahan pengisi, namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume campuran, maka agregat memberikan kontribusi
terhadap kekuatan beton. Faktor-faktor yang mempengaruhi kek
uatan beton terhadap agregat : (1). Perbandingan agregat dan semen campuran, (2).Kekuatan agregat, (3). Bentuk dan ukuran, (4). Tekstur permukaan, (5).Gradasi, (6). Reaksi kimia, dan (7).Ketahanan terhadap panas. Detail mengenai sifat agregat ini dapat dilihat di buku Seri Bahan-Bahan Penyusun Beton.Bahan tambah biasanya hanya digunakan untuk memperbaikisifat-sifat beton, baik saat beton dalam keadaan segar ataupun saat
beton mengeras nantinya. Banyaknya dan komposisi kimia dari bahan tambah akan menyebabkan karakteristik yang berbeda terhadap kinerja beton yang diharapkan.

 b) Metode Pencampuran

1.penentuan proporsi bahan
Proporsi campuran dari bahan-bahan penyusun beton ini ditentukan melalui perancangan beton (
mix design). Hal ini dimaksudkan agar proporsi dari campuran dapat memenuhi syarat kekuatan serta dapat memenuhi aspek ekonomis. Metode perancangan ini pada dasarnya menentukan komposisi
dari bahan-bahan penyusun beton untuk kinerja tertentu yang diharapkan.Penentuan proporsi campuran dapat digunakan denganbeberapa
metode yang dikenal, antara lain : (1). Metode American Concrete Institute, (2).Portland Cement
Association (3).Road Note NO. 4, (4).British Standard, Department of Engineering, (5). Departemen
Pekerjaan Umum (SK.SNI.T-15-1990-03) dan (6). Caracoba-coba.

Saturday, 26 January 2013

Jenis dan Macam Gaya

A. Gaya Tak Sentuh

Adalah gaya yang terjadi tanpa adanya sentuhan langsung dengan benda. contoh :
  1. gaya gravitasi
  2. gaya magnet
  3. gaya listrik

Jenis gaya ditinjau dari letak/ posisi gaya

1. Gaya Luar
Gaya yang bekerja pada suatu benda/ struktur . gaya luar terbagi menjadi 2, yaitu : muatan dan reaksi

2. Gaya Dalam 
Gaya yang melawan gaya yang bekerja pada suatu struktur atau gaya yang terjadi dalam suatu struktur, gaya dalam terbagi 3 :
  1. Gaya lintang : gaya yang bekerja tegak lurus sumbu
  2. Gaya normal : gaya yang bekerja sejajar sumbu
  3. Gaya momen : gaya yang menahan lentur sumbu

Pembebanan berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi :
  1. Gaya karena berat sendiri
  2. Gaya angin
  3. Gaya gempa

Jenis Gaya berdasarkan sifatnya :
  1. Gaya mati : gaya yang selalu ada (permanen) contoh : berat rangka
  2. Gaya hidup : gaya yang sifatnya tidak permanen contoh : mobilyang lewat dijalan raya

Macam dan Jenis Pondasi

A. Pondasi Batu Kali

Adalah pondasi yang dibuat dengan bahan dasar batu kali yang disusun sedemikian rupa. sehingga dapat menahan berat bangunan yang ada di atasnya dan meneruskan ke tanah









B. Pondasi Batu Bata

Adalah pondasi yang dibuat dengan bahan dasar batu yang disusun  sedemikian rupa, sehingga dapat menahan berat bangunan yang ada di atasnya danmeneruskanya ke tanah





C. Pondasi Telapak/ Footplat

pondasi telapak berbentuk seperti telapak kaki seperti gambar disamping, pondasi setempat gunanya untuk mendukung kolom baik untuk rumah satu lantai maupun dua lantai, jadi pondasi ini diletakan tepat pada kolom bangunan, pondasi ini terbuat dari beton bertulang, dasar pondasi telapak bisa berbentuk persegipanjang/ persegi









D. Pondasi Umpak

pondasi umpak dijumpai pada rumah kayu, rumah-rumah adat, atau rumah jaman dulu










E. Pondasi Rakit

Bila dikedalaman dangkal ditemui tanah yang lunak untuk diletakan pondasi , maka solusinya bisa menggunakan pondasi rakit, selain itu pondasi ini juga berguna untuk mendukung kolom-kolom yang jaraknya terlalu berdekatan tidak mungkin untuk dipasangi telapak satu persatu , solusi dijadikan satu kekuatan. pondasi rakit sejatinya adalah plat beton bertulang



F. Pondasi Sumuran

pondasi untuk kedalaman tanah keras 2-6 meter dibawah permukaan tanah . pondasi sumuran mempunyai bis beton berdiameter 60, 100, 120, atau 150 cm. biasanya di bor /dikerjakan dengan bor jatuh sebab di dalamnya tidak dapat digali. jarak antar pondasi sumuran adalah 4-7 meter









G. Pondasi Dalam

yaitu pondasi yang digunakan pada kondisi tanah stabil lebih dari kedalaman 3 meter. pondasi dalam membutuhkan pengeboran dalam karena lapisan tanah yang baik ada di kedalaman , biasanya digunakan oleh bangunan besar, jembatan, struktur lepas pantai , dsb

Jenis pondasi dalam :


  1. Pondasi Tiang pancang (beton, besi, pipa, baja)
  2. Pondasi Borpile

Friday, 25 January 2013

Menghitung Luasan Atap Bangunan

Menghitung luasan atap bangunan merupakan hal atau ilmu yang harus bisa dikuasai oleh seseorang yang bergelut didunia konstruksi banguan,karena ini merupakan hal penting yang harus kita tahu dan pelajari. Maka dari itu saya mau mencatat hal ini pada blog kesayangan ini sambil belajar dan menerapkannya.

Seperti yang kita ketahui atap merupakan salah satu unsur penting didalam bangunan yang akan kita rancang. Atap mempunyai fungsi dan peranan penting dalam melindungi kita dari panas matahari, air hujan, dan benda-benda lain yang bisa jatuh dari atas dan masuk ke dalam rumah.

CARA MUDAH MENGHITUNG LUASAN ATAP BANGUNAN

Contoh Beberapa Bentuk Atap Bangunan

  • Atap Pelana
  • Atap Perisai/Limas (seperti atap rumah adat joglo)
  • Atap Flat (contoh : bentuk miring / datar)
  • Atap Khusus (contoh : gedung MPR, rumah batak, toraja)

Beberapa Jenis Bahan Penutup Atap

  • Atap Ringan, seperti : Jerami, Ijuk, Seng, Asbes, Polycarbonat
  • Atap Sedang, seperti : Genteng Tanah, Genteng Keramik, Genteng Beton, Genteng Kayu
  • Atap Berat, seperti : Dak Beton Cor

Nb :
Makin berat bahan penutup atap, makin besar resiko tertimpa benda berat. Bila atap tersebut roboh akibat terjadi gempa bumi.

Tips Praktis Menghitung Luasan Atap Bangunan untuk Atap flat, limas, pelana dan perisai :


1. Cara menghitung luasan atap Flat datar.
Biasanya dipakai untuk dak beton cor

Rumus :
Kebutuhan luasan atap = Panjang x Lebar

Misalnya rumah dengan ukuran 6m x 10m dan Overstek atap 0.8m
Luasan atapnya adalah :

= (6 + 1.6)m x (10 + 1.6)m
= (7.6m x 11.6m)
= 88.16 m2

2. Cara menghitung luasan atap limas / perisai / pelana.
Luasan atap dihitung dalam satuan m2

Rumus :
Kebutuhan luasan atap = (Panjang x Lebar) / Cos(z)
dimana : z adalah sudut kemiringan atap


Misalnya rumah dengan ukuran 6m x 10m dan Overstek atap 0.8m
Sedang sudut kemiringan atap 30 derajat.
Luasan atapnya adalah :

= ((6 + 1.6)m x (10 + 1.6)m) / (Cos 30)
= (7.6m x 11.6m) / (Cos 30)
= 88.16 m2 / 0.866
= 101.7984 m2

Catatan :
Rumus ini masih bisa dipakai untuk menghitung pada atap yang berbentuk campuran perisai dan pelana.